Jumat, 02 Maret 2012

Kehidupan di Rutan Salemba: Judi dan Seks Sudah Biasa

Hot! Inilah Video Kehidupan Dibalik Rutan Salemba: Napi Boleh Judi Dan Ngeseks Dengan Pelacur
Setiap sudut di Rumah Tahanan Salemba memiliki banderol harga tertentu. Semuanya disesuaikan dengan kocek dan kebutuhan para penghuni penjara.
Semua terungkap dalam rekaman video amatir seorang mantan napi kasus pemalsuan dokumen, Syaripudin S Pane, yang sempat menghuni empat bulan penjara tersebut 2008 lalu.
Video yang dibuat dalam 27 penggalan tersebut menyorot tiap sudut yang ada di dalam penjara. Syaripudin sendiri sempat menghuni Blok K yang merupakan blok yang khusus dihuni para napi korupsi, dari mulai pejabat pemerintah sampai dengan pejabat perusahaan yang tersandung kasus korupsi.
“Harga yang dibanderol di Blok K Rp 30 juta sampai dengan pembebasan. Setiap bulan penghuni wajib mebayar uang kebersihan, keamanan, dan listrik sebesar Rp 1,25 juta,” kata Syaripudin saat ditemui di kediamannya di Jl Pintu 2 TMII, Makasar, Jakarta Timur, Senin (15/11).
Dari penggalan rekaman video tersebut, Blok K memiliki beberapa kamar khusus narapidana. Syaripudin menunjukan beberapa penghuni seperti Nurdin Halid dan Said Agil pernah menghuni blok tersebut. Berbeda dengan blok biasanya, tidak ada teralis di blok peninggalan belanda.
Pintu setiap ruangan laiknya sebuah pintu kayu rumah. Di dalamnya terdapat fasilitas AC, kulkas, dispenser, TV. Blok tersebut juga memiliki lapangan badminton yang biasa digunakan untuk penghuni bermain tenis meja. Di area tersebut terdapat fasilitas gym dan karaoke yang bisa digunakan penghuni blok.
“Kalau ada orang mau ke sana harus melewati beberapa petugas keamanan. Petugas itu juga merupakan napi-napi di sana,” tutur Syaripudin.
Setiap penghuni di area itu dipersilakan memiliki pembantu untuk memasak atau membersihkan kamar. Ada juga tukang cuci pakaian. Untuk pembayaran gaji tergantung kesepakatan pekerja dan para majikannya.
“Semua yang bekerja di blok adalah napi,” katanya.
Menurut Syaripudin, blok khusus koruptor dan dibandrol Rp 30 juta itu kini sudah masuk ke lingkungan Lapas Salemba. Sementara mereka yang menempati ruangan tersebut dialihkan ke lantai dua penjara yang biasa digunakan oleh para staf dan karyawan Rutan Salemba.
Sementara itu Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen Pas) kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum dan HAM), Sihabuddin, mengaku tidak tahu menahu mengenai video kehidupan di balik Rutan Salemba yang direkam oleh mantan napi, Syaripudin S Pane. Namun Sihabudin menjamin akan menseriusi kasus ini.
“Kita akan kaji informasi tersebut. Saya telusuri seberapa jauh kebenarannya, Insya Allah akan saya sikapi,” kata Sihabuddin usai acara pisah sambut pejabat Kanwil Kemenkumham DKI Jakarta, di Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (15/11).
SR mantan tahanan di Rutan Salemba yang mengirimkan sebuah video berdurasi 20 menit kepada okezone dimana menggambarkan kebobrokan Rutan Salemba membeberkan bagaimana cara dirinya mengambil gambar tersebut.
Kata SR, di Rutan Salemba tidak ada yang bisa mencegah dirinya untuk mengambil gambar apapun. Hal itu karena dia merupakan tahanan titipan Kepala Rutan Salemba.
“Saya ada di blok K itu blok VVIP yang mana titipan tahanan orang nomor satu Karutan. Otomatis ambil gambar apapun enggak ada yang bisa mencegah saya,” ujar SR kepada okezone, Selasa (15/11/2011).
SR menuturkan, dirinya mengambil gambar setiap sudut rutan yang tidak sesuai dengan aturan. Hal itu dilakukannya satu bulan menjelang dirinya keluar. Dia mengaku sejak mendekam di rutan sudah berniat untuk membongkar kebobrokan tersebut ke media.
“Disetiap sudut saya ambil semua yang merugikan. Jadi jangan main-main. Saya ambil gambar itu beda-beda waktunya. Sebulan menjelang keluar sudah saya siapkan,” ucapnya.
SR mengaku tidak takut dengan ancaman atau terror yang akan tertuju kepadanya karena telah berani membongkar kebobrokan Rutan salemba. “Saya rasa selama yang saya lakukan benar membuka kebobrokan, saya tidak takut. Karena kasus ini tidak pernah tuntas ditangani Kemenkum HAM,” tandasnya.
Hingga saat ini, lanjutnya, belum ada ancaman atau terror yang menimpa dirinya dan keluarga. “Sampai saat ini telepon, SMS atau ancaman fisik belum ada,” tutupnya. (sus)


| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar