Setiap sudut di Rumah Tahanan Salemba
memiliki banderol harga tertentu. Semuanya disesuaikan dengan kocek dan
kebutuhan para penghuni penjara.
Semua terungkap dalam rekaman video
amatir seorang mantan napi kasus pemalsuan dokumen, Syaripudin S Pane,
yang sempat menghuni empat bulan penjara tersebut 2008 lalu.
Video yang dibuat dalam 27 penggalan
tersebut menyorot tiap sudut yang ada di dalam penjara. Syaripudin
sendiri sempat menghuni Blok K yang merupakan blok yang khusus dihuni
para napi korupsi, dari mulai pejabat pemerintah sampai dengan pejabat
perusahaan yang tersandung kasus korupsi.
“Harga yang dibanderol di Blok K Rp 30
juta sampai dengan pembebasan. Setiap bulan penghuni wajib mebayar uang
kebersihan, keamanan, dan listrik sebesar Rp 1,25 juta,” kata Syaripudin
saat ditemui di kediamannya di Jl Pintu 2 TMII, Makasar, Jakarta Timur,
Senin (15/11).
Dari penggalan rekaman video tersebut,
Blok K memiliki beberapa kamar khusus narapidana. Syaripudin menunjukan
beberapa penghuni seperti Nurdin Halid dan Said Agil pernah menghuni
blok tersebut. Berbeda dengan blok biasanya, tidak ada teralis di blok
peninggalan belanda.
Pintu setiap ruangan laiknya sebuah
pintu kayu rumah. Di dalamnya terdapat fasilitas AC, kulkas, dispenser,
TV. Blok tersebut juga memiliki lapangan badminton yang biasa digunakan
untuk penghuni bermain tenis meja. Di area tersebut terdapat fasilitas
gym dan karaoke yang bisa digunakan penghuni blok.
“Kalau ada orang mau ke sana harus
melewati beberapa petugas keamanan. Petugas itu juga merupakan napi-napi
di sana,” tutur Syaripudin.
Setiap penghuni di area itu dipersilakan
memiliki pembantu untuk memasak atau membersihkan kamar. Ada juga
tukang cuci pakaian. Untuk pembayaran gaji tergantung kesepakatan
pekerja dan para majikannya.
“Semua yang bekerja di blok adalah napi,” katanya.
Menurut Syaripudin, blok khusus koruptor
dan dibandrol Rp 30 juta itu kini sudah masuk ke lingkungan Lapas
Salemba. Sementara mereka yang menempati ruangan tersebut dialihkan ke
lantai dua penjara yang biasa digunakan oleh para staf dan karyawan
Rutan Salemba.
Sementara itu Direktur Jenderal
Pemasyarakatan (Dirjen Pas) kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum dan
HAM), Sihabuddin, mengaku tidak tahu menahu mengenai video kehidupan di
balik Rutan Salemba yang direkam oleh mantan napi, Syaripudin S Pane.
Namun Sihabudin menjamin akan menseriusi kasus ini.
“Kita akan kaji informasi tersebut. Saya
telusuri seberapa jauh kebenarannya, Insya Allah akan saya sikapi,”
kata Sihabuddin usai acara pisah sambut pejabat Kanwil Kemenkumham DKI
Jakarta, di Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (15/11).
SR mantan tahanan di Rutan Salemba yang
mengirimkan sebuah video berdurasi 20 menit kepada okezone dimana
menggambarkan kebobrokan Rutan Salemba membeberkan bagaimana cara
dirinya mengambil gambar tersebut.
Kata SR, di Rutan Salemba tidak ada yang
bisa mencegah dirinya untuk mengambil gambar apapun. Hal itu karena dia
merupakan tahanan titipan Kepala Rutan Salemba.
“Saya ada di blok K itu blok VVIP yang
mana titipan tahanan orang nomor satu Karutan. Otomatis ambil gambar
apapun enggak ada yang bisa mencegah saya,” ujar SR kepada okezone,
Selasa (15/11/2011).
SR menuturkan, dirinya mengambil gambar
setiap sudut rutan yang tidak sesuai dengan aturan. Hal itu dilakukannya
satu bulan menjelang dirinya keluar. Dia mengaku sejak mendekam di
rutan sudah berniat untuk membongkar kebobrokan tersebut ke media.
“Disetiap sudut saya ambil semua yang
merugikan. Jadi jangan main-main. Saya ambil gambar itu beda-beda
waktunya. Sebulan menjelang keluar sudah saya siapkan,” ucapnya.
SR mengaku tidak takut dengan ancaman
atau terror yang akan tertuju kepadanya karena telah berani membongkar
kebobrokan Rutan salemba. “Saya rasa selama yang saya lakukan benar
membuka kebobrokan, saya tidak takut. Karena kasus ini tidak pernah
tuntas ditangani Kemenkum HAM,” tandasnya.
Hingga saat ini, lanjutnya, belum ada
ancaman atau terror yang menimpa dirinya dan keluarga. “Sampai saat ini
telepon, SMS atau ancaman fisik belum ada,” tutupnya. (sus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar