Selasa, 17 April 2012

Mimpi Arek Malang Bermain Untuk SS Lazio

Tingginya hanya 167 cm. Tidak terlalu tinggi bagi seorang pemain sepakbola profesional yang menjalani karir di Eropa. Tetapi, dia memiliki lari yang kencang dan dribble bola yang menawan. Pemain itu bernama Yericho Christiantoko. Putra bangsa Indonesia yang bermain bagi klub CS Vise, Belgia.
Yericho Christiantoko
Yericho Christiantoko
Yericho bersama dengan Alfian Tuasalamony, Yandy Sofyan Munawar, dan Syamsir Alam merupakan empat pemain Indonesia yang beruntung bisa bermain di Eropa. Tempat terbaik untuk mengasah skill bermain sepakbola sekaligus memiliki industri sepakbola yang maju.
Yericho akrab disapa dengan panggilan “owik”, yang berarti kiwo atau kidal, merujuk pada kaki kirinya yang memiliki kekuatan luar biasa. Berposisi sebagai bek kiri, Owik biasa melakukan overlapping ke depan untuk membantu serangan tim yang dibelanya.
“Saya suka dengan posisi ini dan kebetulan posisinya sama dengan dua pemain idola saya, Roberto Carlos dan Alexander Pulalo,” ujar Yericho, pemain kelahiran 14 Januari 1992 ini.
Gaya bermain yang agresif ini sempat membuatnya mendapat perhatian dari beberapa klub Uruguay. Dia mendapat julukan sebagai Roberto Carlos – nya Asia berkat aksi impresif tatkala membela Indonesia Futbol Sociedad Anonima Deportivo (SAD) yang berlaga di liga usia muda Uruguay sepanjang tahun 2008 hingga 2011.
Meski diminati beberapa klub Uruguay, Yericho memilih menerima tawaran CS Vise yang kebetulan saat itu telah dibeli Aga Bakrie, pengusaha asal Indonesia. Pilihan Yericho nampaknya tidak salah. Dia langsung menjadi bagian dari tim utama CS Vise yang berkompetisi di divisi dua liga Belgia.
First Team of CS Vise, courtesy of CS Vise
First Team of CS Vise, courtesy of CS Vise
Perjalanan Karir
Sebelum mengenakan kostum nomor punggung 2 di CS Vise, Yericho telah meniti karir dari sekolah dasar (SD) dan penuh dengan tantangan. Saat anak – anak lain masih senang – senangnya bermain, Yericho sudah mulai berlatih menendang bola dengan benar.
“Saya sudah mulai berlatih sepakbola sejak kelas 1 SD,” ujar Yericho, yang meski lama tinggal di luar negeri tetap suka pecel, rujak, dan bakso ini. Sejak usia dini, Yericho sudah serius mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemain sepakbola, sesuatu yang amat dicita – citakannya. Sebagai arek Malang, tak salah jika orang tua Yericho memilihkan akademi Arema sebagai tempat bagi anaknya untuk menimba ilmu sepakbola. Salah satu tempat terbaik yang ada di negeri ini.
Berkat kerja keras dan disiplin tinggi bisa dibilang karir Yericho berjalan dengan mulus. Dirinya bermain untuk tim Jatim U – 15. Setelah itu, dia tak pernah absen bermain untuk tim nasional di setiap level usia, U – 16, U – 17, hingga U – 19. Bagi Arema dia juga bermain untuk tim junior U – 18 dan berhasil memenangkan Piala Medco U – 15 dan Liga Remaja Nasional Piala Soeratin pada tahun 2007.
Bermain Untuk SAD
Permainan yang ciamik membuat jajaran pemandu bakat PSSI memilihnya sebagai salah satu pemain muda Indonesia yang akan dikirim ke Uruguay. Kebijakan mengirim tim SAD ke Uruguay ini sebagai bagian dari program pembinaan usia dini PSSI. Diharapkan dari tim ini nantinya akan muncul kerangka tim nasional masa depan Indonesia.
Ujian pertama Yericho dan tim SAD adalah saat menjadi tuan rumah Pra Piala Asia U – 19 yang dihelat di stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung. Setelah setahun berguru di Uruguay, tim SAD dianggap mampu berbicara banyak di kancah ini dan mampu meloloskan Indonesia ke Piala Asia U – 19. Sayang, timnas Garuda muda masih kalah bersaing dengan Jepang dan Australia.
Walaupun gagal di rumah sendiri, secercah harapan mengemuka terhadap bakat – bakat brilian tim SAD. Kerjasama tim yang bagus dan mampu menampilkan permainan menyerang indah membuat harapan rakyat Indonesia melihat timnas yang kuat bisa terwujud.
Salah satu pemain yang mendapatkan perhatian saat itu adalah Yericho Christiantoko. Bermain di sisi kiri, Yericho rajin membantu serangan dengan melakukan tusukan – tusukan yang merepotkan lawan sekaligus melepaskan umpan terukur untuk santapan Syamsir Alam, Yandy Sofyan, maupun Alan Martha. Yericho juga beberapa kali mengambil freekick. Meski tak ada yang menjadi gol, tapi tendangannya cukup akurat dan berhasil merepotkan penjaga gawang lawan.
Mulai Karir Di Eropa
Setelah empat tahun di Uruguay, tibalah waktunya bagi Yericho untuk mengasah kemampuan di tempat baru: Belgia, Eropa. Bukan perkara mudah untuk menjalani karir di tempat baru bagi pemain yang masih berusia muda. Dan ini juga dirasakan oleh Yericho yang mengakui adanya perbedaan karakter permainan.
Yericho saat bermain untuk CS Vise
Yericho saat bermain untuk CS Vise
“Dulu saat bermain di Indonesia cirinya keras, cepat dan ngeyel, di Uruguay tidak jauh beda dengan Indonesia dari segi karakter permainan walaupun memiliki teknik yang lebih bagus, nah kalau belgia ini sekarang lebih mengedepankan teknik dan organisasi tim, ketiganya memiliki karakteristik yang berbeda tetapi bukan masalah dan bagi saya itu baik – baik saja” terang Yericho mengenai pengalamannya bermain di tiga negara berbeda.
Baginya bisa bermain di Eropa merupakan anugerah yang amat besar. Selain itu, juga mendekatkan mimpinya menjadi kenyataan, yakni bermain untuk SS Lazio. “Mimpi terliar saya adalah bisa bermain untuk Lazio dan bisa membawa Indonesia ke Piala Dunia,” begitu cerita Yericho soal mimpinya.
Yericho berada dalam track yang tepat untuk meraih mimpinya. Mulai setahap demi setahap menjalani karir di Eropa. Mungkin sekarang baru berlaga di kasta kedua liga Belgia, tetapi suatu saat siapa yang tahu jika dirinya bisa bermain di ibukota Italia, Roma, kota tempat Lazio bermarkas. Semakin banyak pemain Indonesia yang mampu bermain di level tertinggi sepakbola dunia tentu akan memperbesar peluang Indonesia berlaga di perhelatan Piala Dunia, yang hanya digelar empat tahun sekali.
Masalah yang mungkin dihadapi oleh Yericho adalah soal kemampuan adaptasi dan kebugaran. Yericho sempat terkena cedera engkel di CS Vise dan ini memberi masalah tersendiri bagi dirinya untuk kembali ke performa terbaik.
Saat bermain bagi timnas U – 23 di Sea Games penampilannya juga tidak terlalu menjanjikan dan hanya diberi satu kali kesempatan oleh coach Rachmad Darmawan. Dia mengeluhkan perbedaan karakter di timnas yang lebih lamban dibanding saat bermain bersama CS Vise. Disamping itu, dirinya mungkin tak terlalu bugar karena perjalanan jauh dari Belgia ke Jakarta menguras fisiknya.
Kemampuan adaptasi yang cepat dan bisa segera bugar setelah cedera maupun jetlag (jika kembali dipanggil timnas) perlu ditingkatkan oleh Yericho. Jika ini bisa diatasi oleh Yericho rasanya dirinya bisa terus tampil di form terbaik. Untuk ukuran pemain Indonesia, Yericho sangat menjanjikan. Dan bisa menjadi salah satu punggawa timnas masa depan.
Jika dia sudah bisa mewujudkan mimpi – mimpinya, ada satu lagi hal penting yang ingin dia lakukan. Kembali ke Indonesia, untuk bermain di klub kebanggaan serta klub yang turut andil membesarkan dirinya, Arema Indonesia. Tentunya setelah usia 30-an, saat dia memutuskan untuk mengakhiri karirnya di luar negeri.
Budaya yang berbeda di Uruguay dan Belgia, tak mampu mengubah si arek malang ini untuk tetap menjadi pria sederhana dengan mimpi sederhana, namun penuh makna dan nilai kecintaan pada asalnya.

| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar